Minggu, 09 Januari 2011

KENAPA PENANGGULANGAN LONGSORAN BADAN JALAN DENGAN PENANGANAN SETEMPAT SELALU MENGALAMI KEGAGALAN


KENAPA PENANGGULANGAN LONGSORAN BADAN JALAN
DENGAN PENANGANAN SETEMPAT SELALU MENGALAMI KEGAGALAN
0leh : Ir. Didi Irahadi ( Expert  Penangulangan Longsoran/Embahnya Longsoran/Pemerhati Longsoran di Indonesia )

Ada tiga klasifikasi besar dalam Penanganan Penanggulangan Longsoran yaitu dapat diuraikan sebagai berikut.

1.     Relokasi  :  Pergeseran badan jalan kearah tebing, ini lebih akurat dilakukan bila penyebab utama longsoran badan jalan karena gerusan arus sungai.  Dan sampai saat ini belum ada satu konstruksi yang bertahan lama terhadap gerusan sungai ini,  dan pada umumnya gagal maning, gagal maning, seiring dengan berjalannya waktu, apalagi menggunakan sheet pile dengan batuan dasar penyusun adalah batuan ( batuan sediment, beku dan metamorfosa ).
2.     Redesain ( Penurunan Badan Jalan ), yaitu meredesain ulang alinyemen vertikal badan jalan ( menurunkan/memotong ) sekitar 3 – 10 meter sesuai kedalaman bidang gelincir yang ada, dan ini bisa dilakukan bila lokasi longsoran berada pada daerah punggungan, atau secara perhitungan desain badan jalan memungkinkan.
3.     Penanganan Setempat :  ada berbagai macam jenis konstruksi penanganan setempat bisa digunakan untuk penanggulangan  longsoran, yaitu dapat diuraikan seperti berikut.

a.      Bronjong  :  ada 2 jenis bronjong yaitu bronjong gravitasi dan bronjong pabrikasi.
b.      Tembok Penahan Tanah, baik dari pasangan batu ataupun dari beton bertulang.
c.       Tembok Penahan Tanah dengan pondasi tiang pancang atau pondasi bor pile, ini digunakan bila kedalaman bidang gelincir relatip cukup dalam. Ongkos angkut peralatan pemancangan tiang pancang dan bor pile cukup mahal dan memerlukan alat angkut khusus jadi harus sebanding dengan besaran nilai proyeknya ( untuk diameter > 30 cm ).
d.      Geogrid :  sejenis anyaman berlubang dari bahan polymer sejenis plastik, yang kuat tariknya sudah memenuhi standard, untuk digunakan sebagai penahan badan jalan.
e.      Geotekstil : sejenis tekstil dari bahan polymer akan tetapi anyamannya rapat, dan yang digunakan untuk penahan badan jalan adalah geotekstil jenis reinforment, bukan yang berfungsi untuk lapisan penyaring, pada konstruksi subdrain. 
f.        Stabilisasi Tanah :  Sejenis cairan zat kimia yang berfungsi dapat merekatkan tanah, setelah diaduk dan dipadatkan selapis demi selapis.
g.      Penggunaan Counter Weight :  Pilihan jenis ini bisa dilakukan bila bidang gelincir/longsoran berupa rotasi, sehingga bila kita menaruh beban tanah timbunan pada kaki longsoran diharapkan pergerakan longsoran akan berhenti atau berjalan secara perlahan.
h.      Sheet Pile :  Konstruksi dengan sheet pile bisa efektip digunakan bila lapisan tanah dasar disusun oleh tanah lunak, seperti lempung, lanau, pasir berbutir halus ( bias masuk kedalam ).
Umumnya digunakan untuk menahan tebing sungai di kawasan perkotaan.
i.        Pile slab.
j.       Sub drain, dll.

Kunci utama penanganan penanggulangan longsoran yaitu peniadakan komponen/faktor utama/dominan penyebab longsoran itu sendiri, dan pada penanggulangan longsoran dengan penanganan setempat kita harus mengetahui kedalaman bidang gelincir, karena kita akan meletakkan dasar pondasi konstruksi dibawah bidang gelincir. Akan tetapi tidak semua lokasi longsoran masih mempunyai bidang gelincir, banyak pula bidang gelincir ini sudah amblas ke dasar jurang. 
Komponen utama adalah tenaga ahli yang ikut serta ( ilu biyung ) dalam rekayasa penanganan longsoran harus ada seorang ahli geologi ( ahli batuan/bumi ), bagaimana kita akan membangun jenis konstruksi dibumi tempat kita berpijak kalau kita tidak mengikut sertakan seorang ahli geologi ( ahli geologi/geologi teknik disamping ahli geoteknik/sipil ), ini suatu hal yang mustahil dan dilematis sekali/ironis sekali dan merupakan suatu kemunduran.
Saat ini kita sedang menunggu suatu kegagalan total dalam penanganan penanggulangan longsoran di seluruh Indonesia yang berjalan secara perlahan, akan tetapi bila terjadi durasi curah hujan yang cukup lama (> 4 jam hujan lebat) dalam suatu ruas link jalan, maka kegagalan penanganan longsoran ini akan sangat dipercepat.
Bila kita menginginkan konstruksi yang kita bangun dengan biaya mahal dan bisa bertahan cukup lama, kita harus melakukan dua hal tersebut di atas, kalau hal ini tidak dilakukan kita hanya menunggu waktu, perlahan tapi pasti dan seiring berjalannya waktu pasti akan ambrol lagi, alias gagal maning.
Dari hasil pengamatan lapangan tentang penanganan longsoran pada ruas – ruas jalan yang ada diseluruh Indonesia yang telah ditangani dengan konstruksi sederhana/sementara/bronjong gravitasi sampai jenis konstruksi yang canggih dan validpun ( geogrid, tembok penahan beton bertulang dengan pondasi tiang pancang atau bor pile, geotekstil dll ) dimana diatas 70 % kita tinggal menunggu keambrukkan seiring berjalannya waktu.
Mengapa hal ini bisa terjadi padahal buku pedoman, panduan dan acuan sudah banyak diterbitkan dan dicetak ( ???????????????????? ).
Adapun faktor-faktor  penyebab kegagalan penanganan longsoran badan jalan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut.
1). Tenaga ahli yang dilibatkan dalam penanganan longsoran ini tidak aku-
     rat (ahli geologi teknik/ahli bumi tidak dilibatkan alias tidak ada didalam
     TOR yang  ada  ahli geoteknik/sipil,  bagaimana  kita akan membangun
     konstruksi  dimuka  bumi  ini  kalau  ahli bumi tidak dilibatkan.  Sebagai
     contoh kita akan membangun konstruksi penanganan longsoran dengan
     dengan tembok penahan dengan pondasi tiang pancang diatas batuan
     breksi atau batuan sediment yang notabenenya tidak dapat dipancang/  
     hanya bertumpu saja, ya tinggal menunggu saatnya untuk ambruk lagi,
     yang benar adalah dengan jenis pondasi bor pile.
2). Faktor  penyebab  utama/dominan  longsoran  itu  tidak  ditangani ( air
hujan air permukaan , malah dibuang/dimasukkan ke zona longsoran) ,ya secanggih apapun jenis konstruksi yang digunakan seiring berjalannya waktu/perlahan tapi pasti akan ambruk juga, mau bukti waduh banyak sekali boleh dikatakan lebih dari 70 % penanganan longsoran di seluruh Indonesia baik secara sementara maupun permanent  tinggal menunggu ambruknya saja (perlahan tapi pasti).

1.    Contoh konkrit terjadi di ruas jalan Jonggol/Cileungsi – Cianjur Km. 79 + 650 Bandung (Jawa Barat),  batuan dasar penyusun dilokasi longsoran ini adalah breksi vulkanik yang notabenenya tidak dapat dipancang hanya masuk pada zona pelapukannya saja, akan tetapi karena tenaga ahlinya orang sipil/geoteknik ya dipancang juga, malah diperkuat lagi bagian atasnya dengan diikat dengan dicor lagi, apa buktinya seiring berjalannya waktu/perlahan tapi pasti, sudah jelas pasti ambruk lagi ( ya tidur lagi alias ambruk lagi ), kenapa ini bisa terjadi, karena ahli bumi/geologist tidak diikut sertakan, ini kenyataan yang ada …… sungguh ironis dan kenapa  masih juga dilakukan oleh para pembuat TOR dalam penanggulangan longsoran, ini biaya sangat mahal lho mas ….piye tho.
Setelah ambruk lagi dan dibongkar, baru penulis ( geologist/embahnya longsoran ) diminta pendapatnya. 
Ada 3 solusi yang saya ajukan untuk dipilih :
a.    Relokasi, ke arah bukit tapi waktu itu ada rumah dan katanya yang punya orang Jakarta dan sulit dihubungi.
b.    Redesain/penurunan badan jalan ( sekitar 3 – 5 meter, karena pada jalur ini adalah turunan tajam sepanjang sekitar 5 Km, dari puncak sampai ke jembatan rangka ( perbatasan wilayah Jawa Barat dengan Provinsi DKI ), ini tidak disetujui  karena takut jalan terputus ( sebenarnya bisa dilakukan ).
c.    Penanganan setempat, berupa tembok penahan beton bertulang sepanjang 30,0 meter dengan pondasi bor pile, tapi tidak disetujui juga karena ongkos angkut peralatan bor pile lebih mahal dari nilai pekerjaannya sendiri katanya.
Akhirnya penulis/embahnya longsoran ( geologist ), mengambil alternatip pertama dan memerintah kontraktor untuk mencari pemilik rumah dan ketemu dengan ganti rugi waktu itu, seharga 19 juta rupiah.  Penulis tidak menangani longsoran itu ( dibiarkan saja ), akan tetapi menangani penyebab utama longsorannya yaitu pembuangan air dari saluran samping masuk/dibuang dizona longsoran, dengan cara mencegat air tidak dimasukkan ke zona longsoran dan dibuang ke lokasi/tempat aman ( menagement air permukaan ) sampai sekarang lokasi longsoran itu telah banyak dibangun warung-warung pinggir jalan. Dengan menangani/mengarahkan faktor dominan penyebab longsoran itu sendiri ( air hujan atau air permukaan dimasukkan/dibuang ke zona longsoran ) dengan cara membuang air hujan/air permukaan ke tempat aman dan jangan dimasukkan/dibuang ke zona longsoran, maka lokasi longsoran di tempat ini sudah tuntas ditangani/aman dan sampai sekarang tidak pernah longsor lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar